Bullying Oh Bullying
Kita kerap
mendengar istilah bullying. Entah di televisi atau pemberitaan media
massa. Sebenarnya apakah bullying itu? Bully merupakan perlakuan yang
tidak sebagaimana mestinya terhadap orang lain yang dilakukan oleh seseorang
atau kelompok ke kelompok, atau kelompok ke personal. Perlakuan tidak
sebagaimana mestinya ini bisa dalam bentuk penindasan verbal, bisa pula dengan
penindasan fisik. Contoh: Ada anak yang memiliki berat badan berlebih lalu
dipanggil gajah oleh teman-temannya. Ia merasa tidak nyaman dengan panggilan
tersebut. Maka kondisi ini disebut dengan bullying.
Respon seorang anak terhadap bullying berbeda-beda. Ada anak yang merasa biasa saja saat di-bully oleh teman-temannya, namun ada juga yang merasa bermasalah. Oleh karena itu agara situasi aman dan terkendali memang sebaiknya kita tidak melakukan bullying, tidak memanggil orang dengan panggilan yang tidak ia sukai. Seperti apa yang telah dituntunkan dalam agama. Oleh karena itu kita harus mencoba menumbuhkan kebiasaan baik di kalangan anak-anak kita maupun di kalangan kita sendiri untuk memanggil orang dengan panggilan yang ia sukai.
Proses menumbuhkan
kebiasaan ini bukanlah hal yang mudah. Mengapa tidak mudah? Karena sesuatu hal
yang sudah menjadi kebiasaan dan diterima begitu saja akan dianggap sebagai
kesalahan kecil yang tidak lagi dipedulikan. Oleh karena itu kita harus
senantiasa tidak pernah lelah memberikan nasihat dan membangun kebiasaan baik.
Hal pertama untuk
membangun kebiasaan tidak mem-bully orang lain adalah dengan membuat
kesepakatan bahwa mem-bully orang lain adalah sesuatu hal yang tidak
baik dan dilarang oleh agama. Kesepakatan ini juga kita bagikan dengan
pihak-pihak yang turut serta mendidik anak kita nanti. Sekolah, asrama dan
orang tua harus bersepakat dulu bahwa hal ini bukanlah kebiasaan yang baik. Sebelum
mengajarkan dan memberi nasihat kita harus berpikir positif dulu. Kita ajarkan
anak untuk membiasakan berkata baik, menggunakan kata-kata positif. Misalkan
kalau biasanya kita mengatakan, “Jangan memanggil dia dengan nama yang buruk”
diganti dengan “Panggil temanmu dengan nama yang baik ya...” Perintah positif akan
diterima dengan positif pula, dan ini akan mudah diterima oleh anak.
Setelah diberikan
nasihat pun, respon setiap orang berbeda-beda. Ada anak yang langsung
menjalankan apa yang sudah dinasihatkan, ada pula yang semula sudah menjalankan yang dinasihatkan namun mengulangi
lagi perbuatan kurang baiknya. Dari sini kita wajib introspeksi, apakah cara
kita menasihati anak sudah tepat atau belum. Kita ubah cara menasihatinya,
nasihati lagi dan ingatkan bahwa mem-bully anak lain itu tidak baik. Buat
ia merasa sadar bahwa perilakunya itu selain merugikan diri sendiri juga
merugikan orang lain. Jika dari situ anak sudah sadar dan dapat membangun
kebiasaan tidak mem-bully berarti proses membangun kebiasaan berhasil.
Akan tetapi ada
juga yang setelah dipahamkan, kejadian itu terulang lagi maka perlu dicek lagi
lebih mendalam ke pola pikir anak. Bagaimana latar belakangnya, akidahnya, dan
lain sebagainya. Karena sekali lagi berbeda latar belakang maka berbeda pula treatment
yang perlu diberikan. Apakah ada luka lama yang menyebabkan dia bersikap kasar
terhadap temannya. Karena ada anak yang berkata kotor itu bermula dari karena
dia berasal dari keluarga yang kurang mampu, tapi tidak ingin dikasihani, ia
kemudian membuat pertahanan diri dalam bentuk mengucap kata kotor dan menghina
orang lain. Jika anak tinggal di asrama, teratment ini pun juga
melibatkan orang tua. Jika orang tua angkat tangan dan tidak mau turut serta
dalam proses ini, akan jauh lebih sulit lagi untuk membangun kebiasaan baik
tersebut.
Pada saat
proses memengaruhi pola pikir ini, mengapresiasi anak atas apa yang telah ia
jalankan sangat perlu dilakukan. Harapannya dengan apresiasi yang kita berikan,
anak akan semakin termotivasi dan merasa selalu diingatkan dengan cara yang
positif untuk berbuat baik.
Selain
memberikan treatment pada anak yang suka mem-bully, kita juga
harus memberikan penanganan kepada anak yang menjadi korban bully. Menggali
anak yang di-bully juga ada tantangannya. Anak terkadang takut
menceritakan kepada orang tua. Takut mendapatkan respon yang tidak baik. Oleh
karena itu kita sebagai orang tua harus membangun kenyamanan pada anak dalam
berkomunikasi, sehingga anak bersedia untuk jujur kepada kita dengan kondisi
yang ia hadapi.
Pada dasarnya bully
tidak selamanya menjadi sesuatu hal yang negatif ketika anak meresponnya dengan
baik. Bully adalah suatu proses untuk mengkayakan emosi pada anak kita.
Ketika anak di-bully ia akan mengenal emosi marah atau tidak suka. Dari
situ ia akan belajar menangani situasi ketika dihadapkan pada emosi yang tidak
ia sukai. Kaya emosi ini akan menjadikan anak seimbang dalam menjalani hidup.
Ketika ia dewasa, ia tidak akan mudah tumbang. Karena anak yang terbiasa
mengalami rasa senang dan tidak paham apa itu rasa sedih akan kaget jika
menghadapi emosi yang tidak ia sukai. Bahkan jika penanganan kurang tepat, si
anak bisa gila.
Tugas yang
perlu kita lakukan adalah mencegah bullying dengan membiasakan berkata
baik, menjalin kesepakatan dengan banyak pihak yang turut serta dalam proses
perkembangan anak kita, membangun komunikasi yang baik dengan anak dengan
menanamkan baik sangka dan sama-sama merespon bully sebagai bagian untuk
menguatkan anak di masa depan.
*)Oleh: Dr Sapta Hariningsih, Staff
Pengajar Bimbingan Konseling SMA MTA Surakarta

Komentar
Posting Komentar