Tafakur: Menyuburkan Sedekah
“Jauhkan
dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (sedekah) sebutir
kurma.” (Mutafaq’alaih)
kurma.” (Mutafaq’alaih)
Sedekah, sebuah kata yang teramat sering kita dengar,
namun amat jarang kita amalkan. Padahal Allah menjanjikan suatu hal yang begitu
gagah, “Allah memusnahkan riba dan
menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam
kekafiran dan selalu berbuat dosa.” (QS al-Baqarah (2): 276)
Dalam konteks ayat ini subur mempunyai 2 arti, pertama
subur dalam arti zatnya (harta) bertambah atau berkahnya yang tumbuh subur.
Walaupun jumlahnya tetap sedikit tapi mencukupi, ini namanya subur berkahnya. Bisa
jadi subur dua-duanya, jumlah harta bertambah banyak-berkahnya pun tambah
banyak.
Musnah pun juga ada 2 macam, pertama musnah berkahnya,
meski jumlah harta banyak namun terasa tak pernah mencukupi. Arti lain yakni musnah
hartanya, jika harta musnah barang tentu berkah musnah pula. Sebagaimana
rentenir-rentenir itu, hartanya senantiasa bertambah banyak namun tidak berkah
dan tidak merasa cukup, yang ada hanya kurang terus.
Berbincang mengenai sedekah meluaskan rizqi, ini
adalah fakta yang dijanjikan Al-Qur’an. “Perumpamaan
nafkah yang dikeluarkan oleh orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah
serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir,
seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.
Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah 2:261).
Layaknya
pergantian hari yang mempunyai dua fase, siang dan malam. Sedekah pun mempunyai
sisi lain, yakni sedekah tak melulu
berwujud harta. Subhanallah itu sedekah, Laillahaillallah pun sedekah, senyum
pada suami-isteri/orang lain dihitung sedekah, berkumpul suami-isteri diganjar
senilai sedekah dan masih banyak amalan-amalan senilai sedekah. Maka meluaskan
rizki dalam bahasan ini adalah dalam konteks yang sangat luas. Misal orang yang
senantiasa murah senyum tentu akan menambah sedulur
(persaudaraan), dengan menambah saudara ini akhirnya berimbas pada
komunikasi yang baik hingga muncullah hubungan ekonomi serta sosial yang harmonis
pula.
Lantas dalam beramal tentu kita menginginkan
amalan kita murni tanpa campuran riya’. Karena riya’ itu sendiri adalah syirik
kecil, dimana tentu amalan yang terkontaminasi riya’ tidak akan diridhai Allah.
Walaupun bersedekah dalam skala besar, apalagi kalau bersedekah dengan niat supaya namanya disebut-sebut
sebagai seorang dermawan.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti
(perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada
manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan
orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu
ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak
menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi
petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Al-Baqarah ayat 264).
Selanjutnya, harta
kita itu dari Allah. Allah memerintahkan untuk membelanjakan harta kita di jalan-Nya,
termasuk dengan jalan bersedekah.
Sedekah juga memangkas habis sifat kebakhilan, sedang orang yang bakhil Allah
mengatakan dalam firmannya : “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah
berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik
bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang
mereka bakhilkan akan dikalungkan kelak di lehernya pada hari kiamat. Dan
kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah
mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Ali
‘Imran: 180)
Perlu
diingat bahwa orang yang tidak sedekah (bakhil) itu rugi dunia-akhirat. Di
dunia dia dibenci tetangga karena kebakhilannya, sedang di akhirat hartanya
tidak akan manfaat. Oleh karena itu jika kita diberikan kemudahan oleh Allah,
bersedekahlah! Ingat pesan nabi mengenai 5 sebelum datang 5, salah satunya
gunakan saat kaya mu sebelum datang masa miskin mu.
Endingnya,
bersedekah jangan pernah takut melarat
(miskin), ingat selalu janji Allah bahwa bersedekah akan disuburkan hartanya,
ditambah dan ini sebagai wujud syukur kita pada Allah, dimana siapa yang
bersyukur niscaya Allah tambahkan nikmat untuknya. Renungkan selalu, tak ada
riwayat orang melarat gara-gara rajin
bersedekah. Dan catat selalu, Allah tak pernah ingkar terhadap janji-janji Nya. ***
Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Al Mar'ah versi cetak Edisi X/ No.7
sumber gambar: pixabay.com

Komentar
Posting Komentar